Awal mulanya saya dapat cerita tentang
Gunung Patah ini dari abang Lefi yang pada waktu itu kita ketemu pas saya lagi
muncak di Bukit Besar pada tahun 2013 yang saya lupa bulan dan tanggalnya,
keberan waktu itu jarak tenda kita dekat jadi lebih mudah buat ngobrol sambil
ngopi, nah dari informasi beliau lah saya dapat informasi tentang Gunung Patah
yang sedikit sekali informasinya di internet ataupun media sosial karena kata
beliau juga belum pernah ada yang ekspedisi di gunung Patah ini, cuma kata bang
lefi informasinya di daerah Semendo, Muara Enim Sumatera Selatan itu informasi
yang sedikit dari beliau yang saya tahu.
Kemudian setelah itu saya mencari
informasi di media Tentang Gunung Patah, waktu itu saya tahu ada beberapa
anak-anak Mapala KAMPALA UNIV Bengkulu tahun 2005 yang pernah melakukan
ekspedisi ke gunung tersebut tapi belum mencapai puncak tertingginya, informasi
yang saya dapat teputus sampai disitu.
lanjut cerita saya dan teman saya mencoba
melakukan hiking di Bukit Kendi, Danau Cinta areal pertambangan Bukit asam
Tanjung Enim yang pada waktu itu lagi booming anak-anak dari beberapa komunitas
muncak di sana, saya pun bertemu beberapa teman yang mempunyai hobi yang sama,
sempat ngobrol-ngobrol di puncak Bukit tersebut, kebetulan teman saya mau lebih
lama istirahat di jalan dan mengabadikan momen akhirnya saya memutuskan lebih
dulu sampai di puncak.
ketika sampai dipucak bukit saya mencari
tempat yang pas dan membuka perbekalan yang dibawa dan pada waktu itu ada 2
orang yang posisinya dekat langsung saya sapa dan diajak ngobrol namanya mansya
dan lendri anak Tanjung Enim disinilah kita lanjut cerita tentang Gunung Patah,
yang ketika itu saya memulai cerita tentang Gunung Patah selalu jadi penasaran
buat saya, ngobrolnya nyambung karena salah satu sering maen ke daerah semendo
ataupun orang tuanya aslinya orang semendo tapi mereka belum tahu informasi
tentang Gunung Patah yang lokasinya ada di Semende juga membuat mereka
penasaran setelah panjang cerita akhirnya teman saya sampai juga di puncak
Bukit dan ikut bergabung setelah ngobrolnya dan berbagi kontak akhirnya mereka
memutuskan untuk lebih dulu turun kebawah dan menuju danau cinta memancing ikan
disana
Dilanjut cerita diatas saya
makin tertarik dengan Gunung Patah saya lanjut mencari melalui media sosial
maupun cerita-cerita dari teman sesama komunitas pecinta alam ataupun penggiat
alam minim sekali informasinya, akhirnya saya melihat melalui akun media sosial
mansya yang kebenaran ketemu di Puncak Bukit Kendi, memposting foto plang
tentang hutan lindung kawasan Gunung Patah dan Bukit Jambul langsung saya minta
kontak HP agar bisa komunikasi lebih lanjut tentang daerah/desa terakhir untuk
mengakses jalur menuju kawasan Gunung Patah setelah dapat informasi saya
mengajak beberapa komunitas pecinta alam dan anak-anak mapala untuk mensurvey
daerah terdekat dengan kawasan Gunung Patah,pada saat itu tanggapan mereka
tidak begitu tertarik untuk merintis jalur pendakian Gunung Patah,Akhirnya saya
mengajak beberapa anggota dari KPA Summit Adventure Prabumulih untuk survey
lokasi desa terdekat dengan kawasan Gunung Patah tersebut, hasilnya dari situ
setelah bercerita dengan masyarakat yang ada didusun Karya Tani Desa Segamit,
saya dapat seseorang yang sudah awam masuk lebatnya kawasan Hutan Gunung Patah
yang bernama Pak Bad,Beliau sudah sering menjelajah Kawasan Hutan disana jadi
dengan Beliau kami mendapat banyak cerita tentang Kawasan Hutan disana mulai
dari keanekaragaman hayati sampai hewan-hewan buas yang masih terdapat
dikawasan hutan tersebut. Setelah beberapa hari saya dan teman Saya tinggal
disana maka saya memutuskan kembali dan sharing dengan komunitas lainnya untuk
melakukan ekspedisi perintisan jalur Gunung Patah via Semendo Kabupaten Muara
Enim.tepat nya pada bulan september 2014, saya, budi dan mansyah (teman dari
tanjung enim) memutuskan untuk melakukan ekspedisi dengan mengajak 2 orang dari
desa Karya Tani untuk ikut merintis jalur Pendakian Gunung Patah, pukul 06.00
Wib kami berangkat dari desa Karya Tani melewati perkebunan kopi warga dan
mulai menembus lebatnya hutan belantara yang masih perawan, banyak juga flora
dan fauna yang kami temukan disini antara lain bunga armopholos dan
jamur-jamuran di ketinggian 2000 an, setelah melakukan beberapa jam perjalanan
yang harus melewati trek air kami memutuskan untuk camp di jalur mengingat jam
menunjukan pukul 18.00 WIB dan sangat beresiko kalau kami harus melanjutkan
perjalanan saat malam hari,dan besok pagi harus melanjutkan perjalanan yang
masih sangat jauh mendekati kawah gunung patah, tepat pukul 06.00 WIB kami
melanjutkan perjalanan untuk mendekati kawah gunung patah, selain melewati trek
lembab sekarang kami harus melewati trek terjal dengan ketinggian 2600 MDPL dan
sampai di puncaknya ada tugu perbatasan yang sudah sedikit hancur,dinamai Bukit
Mutung karena di trek ini terlihat pohon-pohon
yang sudah terbakar sehingga di trek ini sedikit terbuka,disini juga
kita dapat menemukan vegetasi bunga edelweis,pemandangan yang cukup
menyenangkan (bonus mata)selagi melanjutkan perjalanan untuk menuju camp terakhir
mendekati kawah gunung patah, disini kami juga temukan jejak harimau di
kubangan air mendekati kawah gunung patah vegetasi hutan lumut yang susah
ditembus cahaya matahari serta tebalnya lumut yang harus dilewati sedikit
menyusahkan perjalanan kami.
Akhirnya tepat pukul 13.00 WIB
kami sampai di camp terakhir, bersiap-siap masak karena dari tadi perut sudah
berbunyi,di camp terakhir ini sekitar 1 jam lagi kita mencapai kawah gunung
patah dengan ketinggian 2650 MDPL setelah ngobrol-ngobrol sambil santap siang,
kita berencana untuk menuju kawah sekitar pukul 15.00 WIB dan semua anggota TIM
setuju untuk menuju kawah dengan membawa sedikit logistik jadi bisa mengisi
perut yang nanti keroncongan disana,camp terakhir kami cukup strategis didekat
shelter air yang mengalir bisa juga untuk mandi,suhu udara disini 8’C cukup
membuat tubuh mengigil kalau tidak menggunakan jaket,trek yang akan kami lewati
cukup terjal dengan vegatasi hutan lumut yang lembab,di awal-awal harus
melewati aliran air membuat kami harus berbasah-basah lagi, disini kita
melewati lagi tugu perbatasan antara Bengkulu dan Sumatera Selatan dan disini
kita sudah mulai mencium aroma belerang yang menyengat dan sesekali terdengar
gemuru dari semburan kawah,yang membuat saya dan Tim semakin semangat untuk
mendekati kawah, kami melewati trek yang sedikit menurun tak lama kemudian kami
sudah sampai di pinggir kawah yang disekelilingnya sudah terbuka akibat ledakan
kawah gunung patah...subhanallah wah sungguh membuat saya dan Tim
terkagum-kagum melihat keindahan kawah gunung patah yang masih alami dan belum
terjamah tangan-tangan manusia yang akan merusaknya, di sekelilingnya cantigi
yang indah yang membuatnya semakin indah,kami segera mencari tempat yang cukup
nyaman untuk beristirahat sembari memasak perbekalan logistik yang kami bawah
dari camp terakahir sambil memandangi kawah gunung patah...
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar