Kamis, 10 Oktober 2019

Rintis Jalur Pendakian Gunung Patah 2852 Mdpl Via Semendo, Sumatera Selatan

Awal mulanya saya dapat cerita tentang Gunung Patah ini dari abang Lefi yang pada waktu itu kita ketemu pas saya lagi muncak di Bukit Besar pada tahun 2013 yang saya lupa bulan dan tanggalnya, keberan waktu itu jarak tenda kita dekat jadi lebih mudah buat ngobrol sambil ngopi, nah dari informasi beliau lah saya dapat informasi tentang Gunung Patah yang sedikit sekali informasinya di internet ataupun media sosial karena kata beliau juga belum pernah ada yang ekspedisi di gunung Patah ini, cuma kata bang lefi informasinya di daerah Semendo, Muara Enim Sumatera Selatan itu informasi yang sedikit dari beliau yang saya tahu.
Kemudian setelah itu saya mencari informasi di media Tentang Gunung Patah, waktu itu saya tahu ada beberapa anak-anak Mapala KAMPALA UNIV Bengkulu tahun 2005 yang pernah melakukan ekspedisi ke gunung tersebut tapi belum mencapai puncak tertingginya, informasi yang saya dapat teputus sampai disitu.
lanjut cerita saya dan teman saya mencoba melakukan hiking di Bukit Kendi, Danau Cinta areal pertambangan Bukit asam Tanjung Enim yang pada waktu itu lagi booming anak-anak dari beberapa komunitas muncak di sana, saya pun bertemu beberapa teman yang mempunyai hobi yang sama, sempat ngobrol-ngobrol di puncak Bukit tersebut, kebetulan teman saya mau lebih lama istirahat di jalan dan mengabadikan momen akhirnya saya memutuskan lebih dulu sampai di puncak.
ketika sampai dipucak bukit saya mencari tempat yang pas dan membuka perbekalan yang dibawa dan pada waktu itu ada 2 orang yang posisinya dekat langsung saya sapa dan diajak ngobrol namanya mansya dan lendri anak Tanjung Enim disinilah kita lanjut cerita tentang Gunung Patah, yang ketika itu saya memulai cerita tentang Gunung Patah selalu jadi penasaran buat saya, ngobrolnya nyambung karena salah satu sering maen ke daerah semendo ataupun orang tuanya aslinya orang semendo tapi mereka belum tahu informasi tentang Gunung Patah yang lokasinya ada di Semende juga membuat mereka penasaran setelah panjang cerita akhirnya teman saya sampai juga di puncak Bukit dan ikut bergabung setelah ngobrolnya dan berbagi kontak akhirnya mereka memutuskan untuk lebih dulu turun kebawah dan menuju danau cinta memancing ikan disana
Dilanjut cerita diatas saya makin tertarik dengan Gunung Patah saya lanjut mencari melalui media sosial maupun cerita-cerita dari teman sesama komunitas pecinta alam ataupun penggiat alam minim sekali informasinya, akhirnya saya melihat melalui akun media sosial mansya yang kebenaran ketemu di Puncak Bukit Kendi, memposting foto plang tentang hutan lindung kawasan Gunung Patah dan Bukit Jambul langsung saya minta kontak HP agar bisa komunikasi lebih lanjut tentang daerah/desa terakhir untuk mengakses jalur menuju kawasan Gunung Patah setelah dapat informasi saya mengajak beberapa komunitas pecinta alam dan anak-anak mapala untuk mensurvey daerah terdekat dengan kawasan Gunung Patah,pada saat itu tanggapan mereka tidak begitu tertarik untuk merintis jalur pendakian Gunung Patah,Akhirnya saya mengajak beberapa anggota dari KPA Summit Adventure Prabumulih untuk survey lokasi desa terdekat dengan kawasan Gunung Patah tersebut, hasilnya dari situ setelah bercerita dengan masyarakat yang ada didusun Karya Tani Desa Segamit, saya dapat seseorang yang sudah awam masuk lebatnya kawasan Hutan Gunung Patah yang bernama Pak Bad,Beliau sudah sering menjelajah Kawasan Hutan disana jadi dengan Beliau kami mendapat banyak cerita tentang Kawasan Hutan disana mulai dari keanekaragaman hayati sampai hewan-hewan buas yang masih terdapat dikawasan hutan tersebut. Setelah beberapa hari saya dan teman Saya tinggal disana maka saya memutuskan kembali dan sharing dengan komunitas lainnya untuk melakukan ekspedisi perintisan jalur Gunung Patah via Semendo Kabupaten Muara Enim.tepat nya pada bulan september 2014, saya, budi dan mansyah (teman dari tanjung enim) memutuskan untuk melakukan ekspedisi dengan mengajak 2 orang dari desa Karya Tani untuk ikut merintis jalur Pendakian Gunung Patah, pukul 06.00 Wib kami berangkat dari desa Karya Tani melewati perkebunan kopi warga dan mulai menembus lebatnya hutan belantara yang masih perawan, banyak juga flora dan fauna yang kami temukan disini antara lain bunga armopholos dan jamur-jamuran di ketinggian 2000 an, setelah melakukan beberapa jam perjalanan yang harus melewati trek air kami memutuskan untuk camp di jalur mengingat jam menunjukan pukul 18.00 WIB dan sangat beresiko kalau kami harus melanjutkan perjalanan saat malam hari,dan besok pagi harus melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh mendekati kawah gunung patah, tepat pukul 06.00 WIB kami melanjutkan perjalanan untuk mendekati kawah gunung patah, selain melewati trek lembab sekarang kami harus melewati trek terjal dengan ketinggian 2600 MDPL dan sampai di puncaknya ada tugu perbatasan yang sudah sedikit hancur,dinamai Bukit Mutung karena di trek ini terlihat pohon-pohon  yang sudah terbakar sehingga di trek ini sedikit terbuka,disini juga kita dapat menemukan vegetasi bunga edelweis,pemandangan yang cukup menyenangkan (bonus mata)selagi melanjutkan perjalanan untuk menuju camp terakhir mendekati kawah gunung patah, disini kami juga temukan jejak harimau di kubangan air mendekati kawah gunung patah vegetasi hutan lumut yang susah ditembus cahaya matahari serta tebalnya lumut yang harus dilewati sedikit menyusahkan perjalanan kami.
Akhirnya tepat pukul 13.00 WIB kami sampai di camp terakhir, bersiap-siap masak karena dari tadi perut sudah berbunyi,di camp terakhir ini sekitar 1 jam lagi kita mencapai kawah gunung patah dengan ketinggian 2650 MDPL setelah ngobrol-ngobrol sambil santap siang, kita berencana untuk menuju kawah sekitar pukul 15.00 WIB dan semua anggota TIM setuju untuk menuju kawah dengan membawa sedikit logistik jadi bisa mengisi perut yang nanti keroncongan disana,camp terakhir kami cukup strategis didekat shelter air yang mengalir bisa juga untuk mandi,suhu udara disini 8’C cukup membuat tubuh mengigil kalau tidak menggunakan jaket,trek yang akan kami lewati cukup terjal dengan vegatasi hutan lumut yang lembab,di awal-awal harus melewati aliran air membuat kami harus berbasah-basah lagi, disini kita melewati lagi tugu perbatasan antara Bengkulu dan Sumatera Selatan dan disini kita sudah mulai mencium aroma belerang yang menyengat dan sesekali terdengar gemuru dari semburan kawah,yang membuat saya dan Tim semakin semangat untuk mendekati kawah, kami melewati trek yang sedikit menurun tak lama kemudian kami sudah sampai di pinggir kawah yang disekelilingnya sudah terbuka akibat ledakan kawah gunung patah...subhanallah wah sungguh membuat saya dan Tim terkagum-kagum melihat keindahan kawah gunung patah yang masih alami dan belum terjamah tangan-tangan manusia yang akan merusaknya, di sekelilingnya cantigi yang indah yang membuatnya semakin indah,kami segera mencari tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat sembari memasak perbekalan logistik yang kami bawah dari camp terakahir sambil memandangi kawah gunung patah...
Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar